BAHTSUL MASAIL KUBRO

Bahtsul Masail Kubro

Pondok Pesantren Al Anwariyah

Hari  : Rabu Malam Kamis

Tanggal  : 17 Sya’ban 1431 H / 28 Juli 2010 M

TATA TERTIB

BAHTSUL MASAIL KUBRO

PONDOK PESANTREN AL ANWARIYAH

TAHUN 1431 H / 2010 M

A. PESERTA MUSYAWARAH

1. Mustasyar dan Syuriah

2.  MWC NU Kab. Cirebon

3. Seluruh anggota Lajnah Bahtsul Masail Kab. Cirebon

4. Pondok Pesantren Se Kab. Cirebon

5. Alumni Pondok Pesantren Al Anwariyah dan masyarakat Tegalgubug Arjawinangun

Cirebon sekitarnya

6. Undangan

B. PELAKSANAAN MUSYAWARAH

1. Musyawarah dilaksanakan pada hari Rabu malam Kamis, tanggal 17 Sya’ban 1431 H/       28 Juli 2010 M pukul 19.30 Wib.

2. Musyawarah dibuka dan ditutup oleh Ketua Lajnah Bahtsul Masail Kab. Cirebon.

3. Musyawarah dipimpin oleh seorang moderator dalam pengawasan tim perumus serta mushohih.

4. Bila dipandang perlu waktu Musyawarah bisa ditambah sesuai dengan kebutuhan melalui persetujuan tim perumus dan mushohih serta sebagian besar musyawirin.

5. Segala keputusan musyawarah yang dianggap sah oleh musyawirin tidak dapat diganggu gugat.

C. KETENTUAN PESERTA MUSYAWARAH

1.Menempati tempat yang telah disediakan 15 menit sebelum acara dimulai.

2. Mengisi daftar hadir peserta

3. Berbicara melalui moderator.

4. Menjawab masalah dan menyampaikan dasar-dasar ta’birnya setelah diberi waktu oleh

moderator.

5. Menyampaikan teks atau  ta’birnya kepada tim perumus.

6. Bertanggungjawab terhadap keputusan musyawarah Bahtsul Masail.

1. Deskripsi masalah :

Pemerintah kita mempunyai aparatur yang disebut SATPOL PP (Satuan Polisi Pamong Praja) yang dalam prakteknya sering sekali keluar dari norma-norma sosial seperti melakukan tindakan anarkis menghancurkan miliknya para dhu’afa’, dll. dengan dalih melaksanakan kebijakan pemerintah.

Pertanyaan :

  1. Bagaimana pandangan Syara’ menyikapi aksi SATPOL PP seperti tersebut diatas ?
  2. Apakah salah ketika ada seorang SATPOL PP tidak melaksanakan perintah pimpinan karena melihat kemanusiaan menurut Syara’ ?
  3. Bagaimana sikap yang dibenarkan menurut Islam bagi orang yang barang miliknya dirusak SATPOL PP ?

2. Deskripsi Masalah

Kebijakan pemerintah untuk menerapkan perdagangan bebas disuatu sisi mempunyai dampak positif tapi disisi lain mempunyai dampak negatif, banyak para produsen dan pedagang yang gulung tikar karena ketidakmampuan mereka untuk bersaing apalagi dalam perdagangan textil yang corak, motif dan ngtrennya terus berubah sehingga banyak barang dagangan yang sudah melampaui satu haul belum laku dan banyak para pedagang yang bangkrut dengan meninggalkan hutang.

Pertanyaan :

  1. Apakah barang dagangan yang tidak laku bahkan menumpuk bertahun-tahun itu dizakati kembali melihat masuknya haul yang kesekian kalinya, padahal tahun sebelumnya sudah pernah dizakati ?
  2. Sebatas manakah orang yang berhutang (Ghorim) yang berhak menerima zakat 

3. Deskripsi masalah :

Kesadaran Umat Islam dalam melaksanakan ibadah haji dari tahun ketahun terus meningkat sehingga pemerintah Arab Saudi membatasi jumlah jama’ah haji dalam setiap tahunnya termasuk dari Indonesia. Sementara 30% kuota haji Indonesia diisi oleh jama’ah haji yang mengulang sehingga ada calon jama’ah haji yang sudah membayar ONH (Ongkos Naik Haji) meninggal dunia.

Pertanyaan :

  1. Bagaimana hukum hajinya orang yang mengulang tersebut, apakah tidak termasuk menghalangi orang yang haji wajib ?
  2. ONH yang sudah dibayarkan oleh calon jama’ah haji yang meninggal apakah termasuk tirkah yang bisa diwariskan tidak ?

4. Deskripsi Masalah :

Dewasa ini bentuk gigi seseorang bisa dirubah dengan berbagai macam cara diantaranya memasang kawat gigi (Bekel).

Pertanyaan :

–         Bagaimana hukumnya pasang kawat gigi (Bekel) tersebut ?

5. Deskripsi Masalah :

Nikah siri adalah nikah yang tidak dicatatkan dalam petugas pencatat nikah (KUA) dan tidak mempunyai surat-surat (Akta Nikah) tetapi memenuhi syarat rukun nikah secara hukum Syara’ dan dalam faktanya banyak perempuan yang nikah siri ditinggal suami.

Pertanyaan :

  1. Bagaimana nikah siri bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang undang-undangnya tidak diperbolehkan nikah lebih dari satu istri (poligami) ?
  2. Mulai kapankah perempuan yang nikah siri itu dihukumi janda ketika ditinggal suami dan mengadukannya kemana ?
  3. Bagaimana hukumnya membuat undang-undang yang akan mempidanakan orang yang melakukan nikah siri ?

6. Deskripsi Masalah :

Sering sekali kita temukan perokok memakai tambahan untuk mengepresikan dan menambah daya tarik plus kenikmatan tersendiri dengan cara memakai pipa rokok yang terbuat dari gading gajah.

Pertanyaan :

–         Bagaimana hukumnya memakai pipa rokok yang terbuat dari gading gajah ?

7. Deskripsi Masalah :

Ahir-ahir ini sulap menjadi salah satu trend dengan berbagai macam bentuk atraksinya, bahkan pesulap juga menjadi profesi yang sangat menjanjikan.

Pertanyaan :

–         Bagaimana hukumnya berprofesi sebagai pesulap ?

8. Deskripsi Masalah :

Di zaman modern ini manusia cenderung memakai ilmu pengetahuan dengan teknologi dalam memutuskan suatu permasalahan, termasuk masalah-masalah yang berkaitan dengan pengungkapan jati diri seseorang atau bahkan asal usulnya. Termasuk juga dalam pengungkapan masalah-masalah kriminal. Sebagian besar hal-hal tersebut diatas menggunakan tes DNA karena keakuratannya hampir mencapai 100% sedangkan tingkat kesalahannya hanya kurang dari 5%.

Pertanyaan :

–         Apakah tes DNA yang kita kenal itu sudah bisa di jadikan saksi (bayinah) dalam suatu kesaksian atau dalam penelusuran nasab seseorang ?

Hasil dari musyawarah yang terjawab hanya dua permasalahan diantaranya :

JAWABAN (1) :

a.     Tafsil :

1.     Di benarkan { boleh } apabila ada maslahah amah dan merupakan tindakan alternative terahir.

2.     Tidak benar { tidak boleh } apabila tidak ada maslahah amah.

b.     Salah apabila perintah pimpinan mengandung maslahah amah.

c.      Bisa minta gantirugi kepada pemerintah, apabila tidak ada maslahah amah.

Ada 5 {lima} keriteriya maslahah ama menurut ulama.

1.     Sesuatu yang masalhahnya/manfa’atnya dirasakan oleh seluruh atau sebagian masyarakat tapi bukan kelompok atau per orangan.

2.  Selaras dengan tujuan syari’ah yang trangkum dalam Alkulliyatil Komsi. حفظ الدين, حفظ العقل, حفظ النسل, حفظ المال, حفظ العرض

3.  Manfa’at yang di maksud Atau tujuannya harus nyata {حققى} bukan sebatas Perkira’an.

4.     Tidak boleh Bertentangan dengan Al Qur’an, Hadis, Ijma’,Qiyas.

5.     Tidak boleh melaksanakan dengan mengorbankan kepentingan umum lain yang sederajat apalagi yang lebih besar.

Referensi :

ااصول فقه الاسلامى الزحيلي  جز 2  . ص 102

ااصول فقه محمد ابو جهرة  278

ضوابط المصلحة الشريعة الاسلامية  ص 245

سيد رمضان البوطى

 

JAWABAN (2) :

a.     Tetap wajib di zakati menurut semua madzhab kecuali imam malik.

b.     – Jika hutangnya untuk diri sendiri maka sebatas qodil hajat. Dalam hal ini hajatnya di jelaskan: bila mana hartanya dia seluruhnya untuk membayar hutang, maka dia menjadi miskin.

– Jika hutangnya untuk liislakhil datil bayyin atau maslahah-maslahah lainnya, hajatmya tergantung kebutuhan.

وَلِلْإِمَامِ أَوْ نَائِبِهِ أَنْ يَقْطَعَ بُقْعَةً مِنْ الشَّارِع لِمَنْ يَرْتَفِقُ فِيهَا بِالْمُعَامَلَةِ لِأَنَّ لَهُ نَظَرًا وَاجْتِهَادَهُ فِي أَنَّ الْجُلُوسَ فِيهَا مُضِرٌّ أَوْ لَا وَهَذَا يُزْعِجُ مَنْ يَرَى جُلُوسَهُ مُضِرًّا .

الكتاب : نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج

مصدر الكتاب : موقع الإسلام

1. sub B

تحفة المحتاج

وَبَحَثَ الْإِسْنَوِيُّ أَنَّ كُلَّ مَا أَمَرَهُمْ بِهِ مِنْ نَحْوِ صَدَقَةٍ وَعِتْقٍ يَجِبُ كَالصَّوْمِ وَيَظْهَرُ أَنَّ الْوُجُوبَ إنْ سُلِّمَ فِي الْأَمْوَالِ وَإِلَّا فَالْفَرْقُ بَيْنَهَا وَبَيْنَ نَحْوِ الصَّوْمِ وَاضِحٌ لِمَشَقَّتِهَا غَالِبًا عَلَى النُّفُوسِ وَمِنْ ثَمَّ خَالَفَهُ الْأَذْرَعِيُّ وَغَيْرُهُ إنَّمَا يُخَاطَبُ بِهِ الْمُوسِرُونَ بِمَا يُوجِبُ الْعِتْقَ فِي الْكَفَّارَةِ وَبِمَا يَفْضُلُ عَنْ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فِي الصَّدَقَةِ نَعَمْ يُؤَيِّدُ مَا بَحَثَهُ قَوْلُهُمْ تَجِبُ طَاعَةُ الْإِمَامِ فِي أَمْرِهِ وَنَهْيِهِ مَا لَمْ يُخَالِفْ الشَّرْعَ أَيْ بِأَنْ لَمْ يَأْمُرْ بِمُحَرَّمٍ وَهُوَ هُنَا لَمْ يُخَالِفْهُ ؛ لِأَنَّهُ إنَّمَا أَمَرَ بِمَا نَدَبَ إلَيْهِ الشَّرْعُ وَقَوْلُهُمْ يَجِبُ امْتِثَالُ أَمْرِهِ فِي التَّسْعِيرِ إنْ جَوَّزْنَاهُ أَيْ كَمَا هُوَ رَأْيٌ ضَعِيفٌ نَعَمْ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ مَا أَمَرَ بِهِ مِمَّا لَيْسَ فِيهِ مَصْلَحَةٌ عَامَّةٌ لَا يَجِبُ امْتِثَالُهُ إلَّا ظَاهِرًا فَقَطْ بِخِلَافِ مَا فِيهِ ذَلِكَ يَجِبُ بَاطِنًا أَيْضًا ، وَالْفَرْقُ ظَاهِرٌ وَأَنَّ الْوُجُوبَ فِي ذَلِكَ عَلَى كُلِّ صَالِحٍ لَهُ عَيْنًا لَا كِفَايَةً إلَّا إنْ خَصَّصَ أَمْرَهُ بِطَائِفَةٍ فَيَخْتَصُّ بِهِمْ فَعُلِمَ أَنَّ قَوْلَهُمْ إنْ جَوَّزْنَاهُ قَيْدٌ لِوُجُوبِ امْتِثَالِهِ ظَاهِرًا وَإِلَّا فَلَا إلَّا إنْ خَافَ فِتْنَةً كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ فَيَجِبُ ظَاهِرًا فَقَطْ وَكَذَا يُقَالُ فِي كُلِّ أَمْرٍ مُحَرَّمٍ عَلَيْهِ بِأَنْ كَانَ بِمُبَاحٍ فِيهِ ضَرَرٌ عَلَى الْمَأْمُورِ بِهِ ،

وَإِنَّمَا لَمْ يَنْظُرْ الْإِسْنَوِيُّ لِلضَّرَرِ فِيمَا مَرَّ عَنْهُ ؛ لِأَنَّهُ مَنْدُوبٌ وَهُوَ لَا ضَرَرَ فِيهِ يُوجِبُ تَحْرِيمَ أَمْرِ الْإِمَامِ بِهِ لِلْمَصْلَحَةِ الْعَامَّةِ بِخِلَافِ الْمُبَاحِ وَبِهَذَا يُعْلَمُ أَنَّ الْكَلَامَ فِيمَا مَرَّ فِي الْمُسَافِرِ وَفِي مُخَالَفَةِ الْأَذْرَعِيِّ وَغَيْرِهِ لِلْإِسْنَوِيِّ إنَّمَا هُوَ مِنْ حَيْثُ الْوُجُوبُ بَاطِنًا أَمَّا ظَاهِرًا فَلَا شَكَّ فِيهِ بَلْ هُوَ أَوْلَى مِمَّا هُنَا فَتَأَمَّلْهُ ثُمَّ هَلْ الْعِبْرَةُ فِي الْمُبَاحِ وَالْمَنْدُوبِ الْمَأْمُورِ بِهِ بِاعْتِقَادِ الْآمِرِ ، فَإِذَا أَمَرَ بِمُبَاحٍ عِنْدَهُ سُنَّةٌ عِنْدَ الْمَأْمُورِ يَجِبُ امْتِثَالُهُ ظَاهِرًا فَقَطْ أَوْ الْمَأْمُورُ فَيَجِبُ بَاطِنًا أَيْضًا أَوْ بِالْعَكْسِ فَيَنْعَكِسُ ذَلِكَ كُلٌّ مُحْتَمَلٌ وَظَاهِرُ إطْلَاقِهِمْ هُنَا الثَّانِي ؛ لِأَنَّهُمْ لَمْ يَفْصِلُوا بَيْنَ كَوْنِ نَحْوِ الصَّوْمِ الْمَأْمُورِ بِهِ هُنَا مَنْدُوبًا عِنْدَ الْآمِرِ أَوْ لَا وَيُؤَيِّدُهُ مَا مَرَّ أَنَّ الْعِبْرَةَ بِاعْتِقَادِ الْمَأْمُومِ لَا الْإِمَامِ وَلَوْ عَيَّنَ عَلَى كُلِّ غَنِيٍّ قَدْرًا فَاَلَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ هَذَا مِنْ قِسْمِ الْمُبَاحِ ؛ لِأَنَّ التَّعْيِينَ لَيْسَ بِسُنَّةٍ وَقَدْ تَقَرَّرَ فِي الْأَمْرِ بِالْمُبَاحِ أَنَّهُ إنَّمَا يَجِبُ امْتِثَالُهُ ظَاهِرًا فَقَطْ

( قَوْلُهُ : مَا لَمْ يُخَالِفْ إلَخْ ) هَذَا يُفِيدُ وُجُوبَ الْمُبَاحِ إذَا أَمَرَ بِهِ ؛ لِأَنَّهُ لَا يُخَالِفُ

حُكْمَ الشَّرْعِ وَنَقَلَ سم عَلَى الْمَنْهَجِ عَنْ مَرَّ آخِرًا اشْتِرَاطَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ مَصْلَحَةٌ عَامَّةٌ وَأَنَّهُ إذَا أَمَرَ بِالْخُرُوجِ إلَى الصَّحْرَاءِ لِلِاسْتِسْقَاءِ وَجَبَ انْتَهَى وَفِي حَجَرٍ أَنَّهُ إنْ أَمَرَ بِمُبَاحٍ أَيْ لَيْسَ فِيهِ مَصْلَحَةٌ عَامَّةٌ وَجَبَ ظَاهِرًا أَوْ بِمَنْدُوبٍ أَوْ بِمَا فِيهِ مَصْلَحَةٌ عَامَّةٌ وَجَبَ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا انْتَهَى وَخَرَجَ بِالْمُبَاحِ الْمَكْرُوهُ كَأَنْ أَمَرَ بِتَرْكِ رَوَاتِبِ الْفَرْضِ فَلَا تَجِبُ طَاعَتُهُ فِي ذَلِكَ لَا ظَاهِرًا وَلَا بَاطِنًا مَا لَمْ يُخْشَ الْفِتْنَةُ وَنُقِلَ بِالدَّرْسِ عَنْ فَتَاوَى الشَّارِحِ مَرَّ مَا يُوَافِقُهُ ع ش ( قَوْلُهُ : وَهَذَا يُفِيدُ وُجُوبَ الْمُبَاحِ إلَخْ ) لَك مَنْعُهُ بِأَنَّ إيجَابَ مُبَاحٍ لَيْسَ فِيهِ مَصْلَحَةٌ عَامَّةٌ مُخَالِفٌ لِلشَّرْعِ ( قَوْلُهُ أَيْ بِأَنْ لَمْ يَأْمُرْ بِمُحَرَّمٍ ) قَضِيَّتُهُ أَنَّهُ يَجِبُ امْتِثَالُ أَمْرِ الْإِمَامِ بِالْمَكْرُوهِ وَتَقَدَّمَ عَنْ ع ش وَشَيْخِنَا خِلَافُهُ إلَّا أَنْ يُرِيدَ بِالْمُحَرَّمِ الْمَنْهِيَّ بِقَرِينَةِ قَوْلِهِ الْآتِي نَعَمْ الَّذِي يَظْهَرُ إلَخْ ( قَوْلُهُ : وَقَوْلُهُمْ إلَخْ ) عَطْفٌ عَلَى قَوْلِهِ قَوْلُهُمْ تَجِبُ إلَخْ ( قَوْلُهُ : إنْ جَوَّزْنَاهُ ) أَيْ التَّسْعِيرَ ( وَقَوْلُهُ : كَمَا هُوَ إلَخْ ) أَيْ تَجْوِيزُ التَّسْعِيرِ ( قَوْلُهُ : أَنَّ مَا أَمَرَ بِهِ إلَخْ ) أَيْ مِنْ الْمُبَاحِ وَيُعْلَمُ مِنْ كَلَامِهِ هَذَا أَنَّهُ لَا يَجِبُ امْتِثَالُ أَمْرِهِ بِالْمَكْرُوهِ إلَّا إنْ خَافَ فِتْنَةً ( قَوْلُهُ : مِمَّا لَيْسَ فِيهِ مَصْلَحَةٌ إلَخْ ) أَقُولُ وَكَذَا مِمَّا فِيهِ مَصْلَحَةٌ عَامَّةٌ أَيْضًا فِيمَا يَظْهَرُ إذَا كَانَتْ تَحْصُلُ مَعَ الِامْتِثَالِ ظَاهِرًا فَقَطْ وَظَاهِرٌ أَنَّ الْمَنْهِيَّ كَالْمَأْمُورِ فَيَجْرِي فِيهِ جَمِيعُ مَا قَالَهُ الشَّارِحُ فِي الْمَأْمُورِ فَيَمْتَنِعُ ارْتِكَابُهُ وَإِنْ كَانَ مُبَاحًا عَلَى ظَاهِرِ كَلَامِهِمْ كَمَا تَقَدَّمَ وَيَكْفِي الِانْكِفَافُ ظَاهِرًا إذَا لَمْ تَكُنْ مَصْلَحَةٌ عَامَّةٌ أَوْ تَحْصُلُ مَعَ الِامْتِثَالِ ظَاهِرًا فَقَطْ وَجَبَ الِامْتِثَالُ ظَاهِرًا فَقَطْ وَهُوَ مُتَّجِهٌ فَلْيُتَأَمَّلْ سم ( قَوْلُهُ : وَأَنَّ الْوُجُوبَ إلَخْ ) عَطْفٌ عَلَى إنَّ مَا أُمِرَ بِهِ إلَخْ ( قَوْلُهُ فِي ذَلِكَ ) أَيْ فِيمَا أُمِرَ بِهِ سَوَاءٌ كَانَ فِيهِ مَصْلَحَةٌ عَامَّةٌ أَوْ لَا ( قَوْلُهُ فَعُلِمَ إلَخْ ) أَيْ مِنْ الِاسْتِدْرَاكِ الْمَذْكُورِ ( قَوْلُهُ : وَإِلَّا فَلَا ) أَيْ ، وَإِنْ لَمْ نُجَوِّزْ التَّسْعِيرَ كَمَا هُوَ الرَّاجِحُ فَلَا يَجِبُ امْتِثَالُ أَمْرِهِ فِيهِ لَا ظَاهِرًا وَلَا بَاطِنًا ( قَوْلُهُ : مُحَرَّمٍ عَلَيْهِ ) أَيْ عَلَى الْإِمَامِ ( قَوْلُهُ : فِيمَا مَرَّ ) أَيْ مِنْ وُجُوبِ الْمَالِ ( قَوْلُهُ : لِأَنَّهُ مَنْدُوبٌ ) أَيْ مَا مَرَّ عَنْ الْإِسْنَوِيِّ ( وَهُوَ لَا ضَرَرَ فِيهِ ) أَيْ الْمَنْدُوبِ ( وَقَوْلُهُ : يُوجِبُ إلَخْ ) نَعْتٌ لِلضَّرَرِ الْمَنْفِيِّ ( وَقَوْلُهُ لِلْمَصْلَحَةِ إلَخْ ) مُتَعَلَّقٌ لِلْأَمْرِ ( قَوْلُهُ : وَبِهَذَا يُعْلَمُ إلَخْ ) أَيْ بِقَوْلِهِ وَكَذَا يُقَالُ إلَى هُنَا ( قَوْلُهُ وَفِي مُخَالَفَةِ الْأَذْرَعِيِّ إلَخْ ) عَطْفٌ عَلَى قَوْلِهِ فِي الْمُسَافِرِ ( قَوْلُهُ : أَمَّا ظَاهِرًا فَلَا شَكَّ فِيهِ ) أَيْ حَيْثُ خِيفَ فِتْنَةٌ بِتَرْكِ امْتِثَالِهِ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ ( وَقَوْلُهُ بَلْ هُوَ أَوْلَى مِمَّا هُنَا ) أَيْ حَيْثُ وَجَبَ عِنْدَ خَوْفِ الْفِتْنَةِ الِامْتِثَالُ ظَاهِرًا مَعَ أَنَّ الْأَمْرَ مُحَرَّمٌ عَلَيْهِ فَلَأَنْ يَجِبَ ثَمَّ ظَاهِرًا مَعَ خَوْفِ الْفِتْنَةِ بِالْأَوْلَى ؛ لِأَنَّ أَمْرَهُ لَهُمْ ثَمَّ بِمَا مَرَّ مَنْدُوبٌ لَهُ بَصْرِيٌّ .

الكتاب : تحفة المحتاج في شرح المنهاج

مصدر الكتاب : موقع الإسلام

1. Sub A.

الْقَاعِدَةُ الْخَامِسَةُ تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

الكتاب : الأشباه والنظائر

مصدر الكتاب : موقع الإسلام

Kurang lebihnya mohon ma’af.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: